#navbar-iframe { display: none !important; }

Monday, October 29, 2012

Sejarah Kamera Canon


Kwanon, Dewi Welas Asih dalam agama Buddha, dipilih dan digunakan untuk menamai sebuah kamera 35mm pertama buatan Jepang. Berikut adalah sejarah bagaimana Kwanon dikembangkan dan bagaimana nama ini digunakan.

Pada tahun 1930an, dua camera terbaik dengan lensa 35mm dibuat oleh Leica dan Contax. Tahun 1932 lensa Leica II dipasarkan. Tahun berikutnya diikuti oleh Contax I. kedua kamera ini diproduksi oleh Jerman, yang memiliki mesin dengan presisi terbaik di dunia pada masa itu, dan segera kamera-kamera ini menjadi objek paling dicari oleh para pencinta camera di seluruh permukaan bumi. sementara itu, Jepang, dengan dengan pengetahuan dan teknolgi yang minim, terpaksa menggunakan kamera asing sebagai model.


Pada masa itu, gaji awal untuk seorang sarjana di sejumlah perusahaan terkemuka adalah 70Yen per bulan, sementara sebuah D-Model Leica dengan lensa 50mm f/3.5 adalah seharga 420Yen.
Dengan kata lain, Camera Leica dan Contax sungguh jauh dari jangkauan daya beli masyarakat yang menginginkan sebuah kamera yang bagus.

Pada masa itu juga, GORO YOSHIDA (1900-1993) berusaha untuk membuat sendiri (pertama kali di Jepang) kamera dengan lensa 35mm dengan membongkar Kamera Leica II dan mempelajari design-nya.

Yoshida, adalah orang yang selalu tertarik dengan kamera, ia suka membongkar dan merakitnya kembali ketika masih kanak-kanak. Ketika didrop-out ketika masih di tingkat sekolah menengah (Junir High School), Ia mulai bekerja sebagai tukang reparasi dan merekondisi kamera video dan proyektor bioskop. Pada pertengahan 1920-an, sebelum ia mencapai usia 30an, Ia sering melakukan perjalanan dari Jepang ke Shanghai untuk mendapatkan suku cadang proyektor bioskop.

Apa yang membuatnya memutuskan untuk membuat kamera 35mm berkualitas tinggi adalah pada saat Ia bertemu dengan seorang pengusaha Amerika di Shanghai, orang Amerika itu mengatakan “Kenapa kamu harus menumpuh jalan yang begitu jauh ke shanghai hanya untuk mendapatkan suku cadang?”, Jepang telah mampu membuat sejumlah peralatan perang terbaik di dunia, dan bila kalian sanggup membuat barang-barang tersebut, tidak ada alasan kalian tidak sanggup membuat sesuatu sesederhana suku cadang kamera. Hemat waktumu dan buatlah sendiri”.
Imajinasi Yoshida berapi-api saat itu, karena pekerjaannya berhubungan dengan reparasi dan rekondisi kamera, tidaklah heran bila akhirnya Ia putuskan untuk membuat kamera sendiri.
Itulah kisah bagaimana lahirnya kamera canon yang pertama.

Pelajaran yang bisa diambil : bahwa setiap orang bahkan jepang pada saat itu, dapat melakukan sesuatu yang luar biasa jika ada usaha yang keras untuk mencoba.
Tahun 1933, the Precision Engineering Research Laboratory (kemudian berubah menjadi Canon) didirikan pada sebuah ruangan apartemen lantai tiga di Roppongi di Tokyo, sebagai ruang kerja untuk membuat kamera 35mm berkualitas tinggi.
Pada awal pemunculan, dunia mengetahui keberadaan perusahaan baru ini melalui sebuah iklan pada majalah ASAHI CAMERA edisi juni 1934, yang hingga kini tetap bertahan sebagai salah satu majalah fotografi terbaik di Jepang.

Pada sebuah iklan yang cukup berani, dibawah gambar prototype Kwanon, dapat dibaca : Kapal selam “I” class, Pesawat terbang “92-Type” dan kamera Kwanon : All World Leader.
Jepang telah mengembangkan beberapa varian kapal selam class “I” pada tahun 1920an, dan “Type-92” menunjukkan pesawat tempur angkatan udara kekaisaran Jepang.
Kedua peralatan tempur ini ini merupakan symbol kebesaran persenjataan Jepang pada masa itu.
Jadi, iklan Canon ini mengkaitkan dan menyetarakan kamera 35mm Jepang pertama dengan kebesaran teknologi nasional Jepang.

Nama Kwanon sendiri berasal dari nama seorang Dewi welas asih dalam agama Buddha, yang di Jepang dikenal dengan nama Kwanon (di Cina disebut Kwan-Im). Dan logonya menggambarkan Kwanon seribu tangan dengan tulisan KWANON berapi.
Nama Lensa, berasal dari nama Mahakashapa, salah satu dari murid sang Buddha. Nama ini digunakan karena kemiripan bunyinya dengan bunyi shutter kamera ketika nama ini dilafalkan oleh orang Jepang. “Kasha” (bunyi shutter terbuka), “Pa” (bunyi shutter tertutup).

Pabrikan kamera 35mm berkualitas tinggi pertama di jepang adalah hasil dari mimpi seseorang untuk membuktikan bahwa teknologi Jepang adalah setara dengan teknologi Jerman dan semua negara barat lainnya, hasrat dan kebanggan tersebut terus berlanjutkan hingga kini dalam bentuk Lensa Canon EF, yang merupakan kristalisasi dari teknologi terbaru dengan keahlian dan keterampilan tanpa kompromi.